Sabtu, 10 Mei 2008

ടെഹ്നിക് PRESENTASI

TEHNIK PRESENTASI

Oleh :

Zainal Fanani

Disampaikan dalam Pendidikan dan Latihan

Metodologi penelitian Mahasiswa Baru

Tanggal 13 Oktober 2001

Fakultas Ekonomi

Universitas Brawijaya

2001

1

TEHNIK PRESENTASI

Oleh :

2

Zainal Fanani

I. Pendahuluan

Keberhasilan suatu perlombaan karya tulis ilmiah sangat dipengaruhi

bagaimana seseorang mempresentasikan karya Tulisnya. Jika finalis mampu

mempresentasikan karya tulisnya dengan baik maka peluang untuk mendapat

point besar bisa diraih. Namun yang lebih penting lagi hasil karya tulis yang akan

dipresentasikan bisa lolos masuk finalis.

Presentasi akan menjadi mudah bagi mereka yang telah terbiasa dengan

kegiatan semacam ini, namun ia akan menjadi masalah besar bagi mereka yang

susah berkomunikasi (baca = bicara di depan forum). Salah satu cara

mengatasinya yaitu dengan menggunakan alat Bantu, misalnya Overhead

Projector (OHP), Slides Projector atau Liquid Crystal Display (LCD).

II. Komponen Komunikasi

Dalam konteks komunikasi antar manusia ada tiga komponen penting,

yaitu :

1. Manusia, yaitu pemberi informasi (komunikator/finalis) dan penerima

informasi (komunikasi/Tim juri dan peserta lain)

2. Informasi/pesan (Message), yang dalam hal ini adalah hasul karya

3. Cara dan alat atau media yang dipergunakan dalam proses komunikasi

4. Penerima Pesan, Audien yang mendengarkan informasi

III. Proses Komunikasi

Dari berbagai definisi tentang komunikasi dapat diambil sustu kesimpulan

bahwa komunikasi itu merupakan proses dimana penyampaian atau

pengiriman pesan dari sumber kepada satu atau lebih penerima.

Model proses komunikasi yang dikembangkan oleh Harold D Lasswell

yang kemudian dikenal sebagai model Lasswell yang menggambarkan proses

komunikasi adalah sebagai berikut :

Say What (M) Who (S)

Which What Effect (E) In Which chanel (C) To Whom (R)

Model Lasswell ini dikenal dengan model SMRC yang merupakan singkatan

yaitu :

1. S = Source (Sumber)

2. M = Message (pesan)

3. R = Receiver (Penerima pesan)

4. C = Channel (Saluran yang digunakan)

5. E = Effect (pengaruh yang ditimbulkan)

Dengan memandang presentasi sebagai sebuah proses penyampaian informasi,

maka keberhasilan presentasi sangat bergantung pada penguasaan informasi

dan cara-cara penyampainnya. Bila presentasi dianggap sebagai suatu proses

penyampaian informasi dari seseorang (finalis) kepada orang lain (tim juri)

maka finalis sebagai penentu utama keberhasilan.

Untuk mencapai keberhasilan itu, finalis dituntut untuk memahami karya

yang dihasilkan oleh tim dan berketrampilan menyampaikan karya tersebut

agar dicerna dengan jelas olrh tim Juri. Kepercayaan tim juri terhadap hasil

yang dipaparkan dan ketrampilan menyampaikan hasil sangat menentukan

keberhasilan presentasi. Suatu hal yang menjadi persoalan apabila tim juri

sulit memahami paparan finalis karena tim juri kebetulan tidak mempunyai

disiplin (keahlian) ilmu yang sama dengan hasil karya tulis. Akan tetapi kondisi

ini juga menguntungkan presenter dalam hal tertentu.

IV. Hal-hal yang mengurangi keberhasilan presentasi

Beberapa hal yang biasanya terjadi terhadap finalis dalam presentasi

sehingga dapat mengurangi keberhasilannya, diantaranya :

1. Tidak memiliki tujuan pembicaraan yang pasti, atau ia sendiri tidak tahu ia

berbicara apa

2. Tidak mapu berfikir secara logis terhadap apa yang dibicarakan

3. Tidak mampu melakukan analisis

4. Karya yang dipresentasikan tidak sistematis

5. Apa yang dipresentasikan berbeda dengan yang ditulis

6. Tidak menyukai tim Juri

7. Miskin perbendaharaan kata

8. Berbicara tidak jelas, membenatk-bentak (emosi)

9. Kalimatnya panjang-panjang dan bertele-tele

10. Sering salah bicara, salah menyusun kalimat

Ketika seorang presenter mempresentasikan hasil karyanya, tidak saja

presentasi dilakukan dengan melalui ucapan-ucapan saja, tetapi berkomunikasi

juga dengan melalui tatap mata, mimik muka, senyuman, gerakan tangan, dan

gerak-gerak badan lainnya.

V. Persiapan presentasi

Penampilan finalis yang meyakinkan akan sangat menentukan kualitas

presentasi karya yang telah dihasilkan. Untuk itu perhatikan hal-hal sebagai

berikut :

1. Sebelum acara dimulai persiapkan alat-alat bantu dengan baik, telitilah

mutu operasional alat yang digunakan, kuasai enggunaan tombol-tombol

alat, sebagai tahap akhir cobalah alat-alat itu

2. Jangan sekali-sekali datang terlambat, upayakan datang satu jam

sebelumnya. Finalis perlu waktu untuk penyesuaian diri

3. Atur sikap dan cara berjalan yang menunjukkan keyakinan diri, cerdas

dan kesiapan untuk melakukan presentasi

4. Berpakainlah yang sesuai dan mampu menunjukkan citra perguruan

tinggi anda (Universitas Brawijaya) terutama fakultas ekonomi yang telah

berkali-kali meraih prestasi juara. Hargai tim juri diantaranya melalui cara

berpakaian yang rapi dan mengesankan.

5. Mulailah dengan tahap yang membangkitkan perhatian dan motivasi juri.

Hindari membuka presentasi dengan kalimat yang merugikan. Misalnya

minta maaf yang berlebihan, menunjukkan kalu belum siap dan lain-lain

6. Jaga tempo, wibawa dan nada bicara, gunakan pengeras suarau atau

alat Bantu penunjuk (laser pointer misalnya) bila diperlukan.

7. Presentasi untuk dimengerti bukan untuk menyelesaikan target

8. Tingkatkan kemampuan menggunakan bahasa tubuh yang positif,

seperti senyum yang hangat, pandangan mata yang cerdas dan lain-lain

9. Hilangkan kebiasaan yang buruk seperti menggaruk-nggaruk kepala,

memuntir-muntir jari-jari tangan

10. Tunjukkan secara nyata bahwa anda adalah orang yang energik dan

antusias terhadap apa yang anda presentasikan.

VI. Presentasi dengan alat audio visual

Perkembangan peralatan Bantu yang dapat dimanfaatkan dalam

presentasi sekarang sudah sangat maju, masing-masing mempunyai kelebihan

dan kekurangan. Unsur-unsur yang harus diperhatikan dalam menggunakan alat

audio visual yaitu :

1. Materi presentasi

2. Tempat presentasi

3. Alat-alat audio visual (OHP, LCD, VCR, CPP)

4. Letak AV didalam ruangan

5. Alat peraga

6. Tata cara peragaan dan presentas

THAT’S IT……

റെന്ടന്ഗ് TORRENT

BIT TORRENT

BitTorrent adalah suatu protokol untuk berbagi file secara langsung dari komputer ke

komputer yang dikenal dengan istilah peer-to-peer file sharing (P2P) communications

protocol. Jadi komputer Anda di rumah akan terhubung dengan milyaran komputer lain

dari seluruh dunia. Anda bisa mencari data-data seperti file musik, video, software,

artikel atau apapun yang bermanfaat.

Protokol BitTorrent ini dibuat dengan bahasa pemrograman Python oleh Bram Cohen

pada bulan April 2001 dan dirilis pada tanggal 2 Juli 2001. Protokol tersebut kini

dikembangkan oleh Cohen's company BitTorrent, Inc.

Agar komputer Anda dapat terhubung dengan komputer lain dalam berbagi file, Anda

membutuhkan koneksi internet dan software yang menggunakan BitTorrent protocol

yang dikenal dengan istilah BitTorrent client. Program tersebut dapat Anda gunakan

untuk mencari file musik, video, software atau artikel yang dapat didownload. Contoh

BitTorrent client dapat Anda download secara GRATIS di http://www.utorrent.com.

Teknik download file menggunakan protokol BitTorrent sangat berbeda dengan cara

download biasa. Download dengan cara biasa hanya mendownload satu file pada satu

server atau komputer saja. Tetapi dengan protokol BitTorrent, ketika anda mendownload

satu file, protokol ini bisa mencarinya dari banyak tempat yang berbeda. Misalkan Anda

ingin mendownload file video. Satu file video bisa didownload dari banyak tempat yang

berbeda dan dari setiap tempat tersebut diambil secuil demi secuil bagian file sampai

menjadi file yang utuh untuk diletakkan di komputer anda. Dengan cara ini, besar

bandwidth yang dibutuhkan dapat dikurangi sehingga tidak memberatkan server

sekaligus meningkatkan kecepatan download.

Satu file bisa didownload dari

banyak komputer menjadi potongan-potongan yang tidak urut. Tetapi hasil akhirnya akan

menjadi satu file yang utuh.

Untuk mendapatkan file-file torrent, Anda juga bisa mencarinya di di google. Misalkan

ingin mencari software Open Office. Di google ketik saja "Open Office Torrent".

Kemudian Anda klik file torrent tersebut dan akan tersimpan di komputer anda menjadi

”nama file.torrent”.

Setelah itu klik file torrent tersebut dan software Torrent akan mendownload-nya untuk

Anda. Jadi sebelum Anda mendownload file torrent dari website, pastikan Anda sudah

menginstall software torrentnya.

പെമ്ബഗ്യന് സാമന് FILSAFAT
Zaman Modern (1500 - 1800)

Para filsuf zaman modern menegaskan bahwa pengetahuan tidak berasal dari kitab suci atau ajaran agama, tidak juga dari para penguasa, tetapi dari diri manusia sendiri. Namun tentang aspek mana yang berperan ada beda pendapat. Aliran rasionalisme beranggapan bahwa sumber pengetahuan adalah rasio: kebenaran pasti berasal dari rasio (akal). Aliran empirisme, sebaliknya, meyakini pengalamanlah sumber pengetahuan itu, baik yang batin, maupun yang inderawi. Lalu muncul aliran kritisisme, yang mencoba memadukan kedua pendapat berbeda itu.

Aliran rasionalisme dipelopori oleh Rene Descartes (1596-1650 M). Dalam buku Discourse de la Methode tahun 1637 ia menegaskan perlunya ada metode yang jitu sebagai dasar kokoh bagi semua pengetahuan, yaitu dengan menyangsikan segalanya, secara metodis. Kalau suatu kebenaran tahan terhadap ujian kesangsian yang radikal ini, maka kebenaran itu 100% pasti dan menjadi landasan bagi seluruh pengetahuan.

Tetapi dalam rangka kesangsian yang metodis ini ternyata hanya ada satu hal yang tidak dapat diragukan, yaitu "saya ragu-ragu". Ini bukan khayalan, tetapi kenyataan, bahwa "aku ragu-ragu". Jika aku menyangsikan sesuatu, aku menyadari bahwa aku menyangsikan adanya. Dengan lain kata kesangsian itu langsung menyatakan adanya aku. Itulah "cogito ergo sum", aku berpikir (= menyadari) maka aku ada. Itulah kebenaran yang tidak dapat disangkal lagi. -- Mengapa kebenaran itu pasti? Sebab aku mengerti itu dengan "jelas, dan terpilah-pilah" -- "clearly and distinctly", "clara et distincta". Artinya, yang jelas dan terpilah-pilah itulah yang harus diterima sebagai benar. Dan itu menjadi norma Descartes dalam menentukan kebenaran.

Descartes menerima 3 realitas atau substansi bawaan, yang sudah ada sejak kita lahir, yaitu (1) realitas pikiran (res cogitan), (2) realitas perluasan (res extensa, "extention") atau materi, dan (3) Tuhan (sebagai Wujud yang seluruhnya sempurna, penyebab sempurna dari kedua realitas itu). Pikiran sesungguhnya adalah kesadaran, tidak mengambil ruang dan tak dapat dibagi-bagi menjadi bagian yang lebih kecil. Materi adalah keluasan, mengambil tempat dan dapat dibagi-bagi, dan tak memiliki kesadaran. Kedua substansi berasal dari Tuhan, sebab hanya Tuhan sajalah yang ada tanpa tergantung pada apapun juga. Descartes adalah seorang dualis, menerapkan pembagian tegas antara realitas pikiran dan realitas yang meluas. Manusia memiliki keduanya, sedang binatang hanya memiliki realitas keluasan: manusia memiliki badan sebagaimana binatang, dan memiliki pikiran sebagaimana malaikat. Binatang adalah mesin otomat, bekerja mekanistik, sedang manusia adalah mesin otomat yang sempurna, karena dari pikirannya ia memiliki kecerdasan. (Mesin otomat jaman sekarang adalah komputer yang tampak seperti memiliki kecerdasan buatan).

Descartes adalah pelopor kaum rasionalis, yaitu mereka yang percaya bahwa dasar semua pengetahuan ada dalam pikiran.

Aliran empririsme nyata dalam pemikiran David Hume (1711-1776), yang memilih pengalaman sebagai sumber utama pengetahuan. Pengalaman itu dapat yang bersifat lahirilah (yang menyangkut dunia), maupun yang batiniah (yang menyangkut pribadi manusia). Oleh karena itu pengenalan inderawi merupakan bentuk pengenalan yang paling jelas dan sempurna.

Dua hal dicermati oleh Hume, yaitu substansi dan kausalitas. Hume tidak menerima substansi, sebab yang dialami hanya kesan-kesan saja tentang beberapa ciri yang selalu ada bersama-sama. Dari kesan muncul gagasan. Kesan adalah hasil penginderaan langsung, sedang gagasan adalah ingatan akan kesan-kesan seperti itu. Misal kualami kesan: putih, licin, ringan, tipis. Atas dasar pengalaman itu tidak dapat disimpulkan, bahwa ada substansi tetap yang misalnya disebut kertas, yang memiliki ciri-ciri tadi. Bahwa di dunia ada realitas kertas, diterima oleh Hume. Namun dari kesan itu mengapa muncul gagasan kertas, dan bukan yang lainnya? Bagi Hume, "aku" tidak lain hanyalah "a bundle or collection of perceptions (= kesadaran tertentu)".

Kausalitas. Jika gejala tertentu diikuti oleh gejala lainnya, misal batu yang disinari matahari menjadi panas, kesimpulan itu tidak berdasarkan pengalaman. Pengalaman hanya memberi kita urutan gejala, tetapi tidak memperlihatkan kepada kita urutan sebab-akibat. Yang disebut kepastian hanya mengungkapkan harapan kita saja dan tidak boleh dimengerti lebih dari "probable" (berpeluang). Maka Hume menolak kausalitas, sebab harapan bahwa sesuatu mengikuti yang lain tidak melekat pada hal-hal itu sendiri, namun hanya dalam gagasan kita. Hukum alam adalah hukum alam. Jika kita bicara tentang "hukum alam" atau "sebab-akibat", sebenarnya kita membicarakan apa yang kita harapkan, yang merupakan gagasan kita saja, yang lebih didikte oleh kebiasaan atau perasaan kita saja.

Hume merupakan pelopor para empirisis, yang percaya bahwa seluruh pengetahuan tentang dunia berasal dari indera. Menurut Hume ada batasan-batasan yang tegas tentang bagaimana kesimpulan dapat diambil melalui persepsi indera kita.

Dengan kritisisme Imanuel Kant (1724-1804) mencoba mengembangkan suatu sintesis atas dua pendekatan yang bertentangan ini. Kant berpendapat bahwa masing-masing pendekatan benar separuh, dan salah separuh. Benarlah bahwa pengetahuan kita tentang dunia berasal dari indera kita, namun dalam akal kita ada faktor-faktor yang menentukan bagaimana kita memandang dunia sekitar kita. Ada kondisi-kondisi tertentu dalam manusia yang ikut menentukan konsepsi manusia tentang dunia. Kant setuju dengan Hume bahwa kita tidak mengetahui secara pasti seperti apa dunia "itu sendiri" ("das Ding an sich"), namun hanya dunia itu seperti tampak "bagiku", atau "bagi semua orang". Namun, menurut Kant, ada dua unsur yang memberi sumbangan kepada pengetahuan manusia tentang dunia. Yang pertama adalah kondisi-kondisi lahirilah ruang dan waktu yang tidak dapat kita ketahui sebelum kita menangkapnya dengan indera kita. Ruang dan waktu adalah cara pandang dan bukan atribut dari dunia fisik. Itu materi pengetahuan. Yang kedua adalah kondisi-kondisi batiniah dalam manusia mengenai proses-proses yang tunduk kepada hukum kausalitas yang tak terpatahkan. Ini bentuk pengetahuan.

Demikian Kant membuat kritik atas seluruh pemikiran filsafat, membuat suatu sintesis, dan meletakkan dasar bagi aneka aliran filsafat masa kini.

Catatan. Filsafat zaman modern berfokus pada manusia, bukan kosmos (seperti pada zaman kuno), atau Tuhan (pada abad pertengahan). Dalam zaman modern ada periode yang disebut Renaissance ("kelahiran kembali"). Kebudayaan klasik warisan Yunani-Romawi dicermati dan dihidupkan kembali; seni dan filsafat mencari inspirasi dari sana. Filsuf penting adalah N Macchiavelli (1469-1527), Thoman Hobbes (1588-1679), Thomas More (1478-1535) dan Francis Bacon (1561-1626).

Periode kedua adalah zaman Barok, yang menekankan akal budi. Sistem filsafatnya juga menggunakan menggunakan matematika. Para filsuf periode ini adalah Rene Descrates, Barukh de Spinoza (1632-1677) dan Gottfried Wilhelm Leibniz (1646-1710). Periode ketiga ditandai dengan fajar budi ("enlightenment" atau "Aufklarung"). Para filsuf katagori ini adalah John Locke (1632-1704), G Berkeley (1684-1753), David Hume (1711-1776). Dalam katagori ini juga dimasukkan Jean-Jacques Rousseau (1712-1778) dan Immanuel Kant.

5. Masa kini (1800-sekarang).

Filsafat masa kini merupakan aneka bentuk reaksi langsung atau taklangsung atas pemikiran Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831). Hegel ingin menerangkan alam semesta dan gerak-geriknya berdasarkan suatu prinsip. Menurut Hegel semua yang ada dan semua kejadian merupakan pelaksanaan-yang-sedang-berjalan dari Yang Mutlak dan bersifat rohani. Namun celakanya, Yang Mutlak itu tidak mutlak jika masih harus dilaksanakan, sebab jika betul-betul mutlak, tentunya maha sempurna, dan jika maha sempurna tidak menjadi. Oleh sebab itu pemikiran Hegel langsung ditentang oleh aliran pemikiran materialisme yang mengajarkan bahwa yang sedang-menjadi itu, yang sering sedang-menjadi-lebih-sempurna bukanlah ide ("Yang Mutlak"), namun adalah materi belaka. Maksudnya, yang sesungguhnya ada adalah materi (alam benda); materi adalah titik pangkal segala sesuatu dan segala sesuatu yang mengatasi alam benda harus dikesampingkan. Maka seluruh realitas hanya dapat dibuat jelas dalam alur pemikiran ini. Itulah faham yang dicetuskan oleh Ludwig Andreas Feuerbach (1804-1872). Sayangnya, materi itu sendiri tidak bisa menjadi mutlak, karena pastilah ada yang-ada-di-luar-materi yang "mengendalikan" proses dalam materi itu untuk materi bisa menjadi-lebih-sempurna-dari-sebelumnya.

Kesalahan Hegel adalah tidak menerima bahwa Yang Mutlak itu berdiri sendiri dan ada-diatas-segalanya, dalam arti tidak dalam satu realitas dengan segala yang sedang-menjadi tersebut. Dengan mengatakan Yang Mutak itu menjadi, Hegel pada dasarnya meniadakan kemutlakan. Dalam cara sama, dengan mengatakan bahwa yang mutlak itu materi, maka materialisme pun jatuh dalam kubangan yang sama. Dari sini dapat difahami munculnya sejumlah aliran-aliran penting dewasa ini:

Positivisme menyatakan bahwa pemikiran tiap manusia, tiap ilmu dan suku bangsa melalui 3 tahap, yaitu teologis, metafisis dan positif ilmiah. Manusia muda atau suku-suku primitif pada tahap teologis" dibutuhkan figur dewa-dewa untuk "menerangkan" kenyataan. Meningkat remaja dan mulai dewasa dipakai prinsip-prinsip abstrak dan metafisis. Pada tahap dewasa dan matang digunakan metode-metode positif dan ilmiah. Aliran positivisme dianut oleh August Comte (1798-1857), John Stuart Mill (1806-1873) dan H Spencer (1820-1903), dan dikembangkan menjadi neo-positivisme oleh kelompok filsuf lingkaran Wina.

Marxisme (diberi nama mengikuti tokoh utama Karl Marx, 1818-1883) mengajarkan bahwa kenyataan hanya terdiri atas materi belaka, yang berkembang dalam proses dialektis (dalam ritme tesis-antitesis-sintesis). Marx adalah pengikut setia Feuerbach (sekurangnya pada tahap awal). Feuerbach berpendapat Tuhan hanyalah proyeksi mausia tentang dirinya sendiri dan agama hanyalah sarana manusia memproyeksikan cita-cita (belum terwujud!) manusia tentang dirinya sendiri. Menurut Feuerbach, yang ada bukan Tuhan yang mahaadil, namun yang ada hanyalah manusia yang ingin menjadi adil. Dari sini dapat difahami mengapa Marx berkata, bahwa "agama adalah candu bagi rakyat", karena agama hanya membawa manusia masuk dalam "surga fantasi", suatu pelarian dari kenyataan hidup yang umumnya pahit. Selanjutnya Marx menegaskan bahwa filsafat hanya memberi interpretasi atas perkembangan masyarakat dan sejarah. Yang justru dibutuhkan adalah aksi untuk mengarahkan perubahan dan untuk itu harus dikembangkan hukum-hukum obyektif mengenai perkembangan masyarakat.

[Catatan. Soekarno mengklim telah mencetuskan marhaenisme sebagai marxisme diterapkan dalam situasi dan kondisi Indonesia. Kualifikasi "penerapan dalam situasi dan kondisi Indonesia" (apapun itu) pastilah tidak membuat faham marhaenisme sebagai suatu aliran filsafat dan pastilah tidak harus sama dengan faham marxisme sebagai diterapkan di dalam lingkungan masyarakat lain.]

Ditangan Friedrich Engels (1820-1895), dan lebih-lebih oleh Lenin, Stalin dan Mao Tse Tung, aliran filsafat Marxisme ini menjadi gerakan komunisme, yaitu suatu ideologi politik praktis Partai Komunis di negara mana saja untuk merubah dunia. Sangat nyata bahwa dimana saja Partai Komunis itu menjalankan praktek-praktek yang nyatanya mengingkari hak-hak azasi manusia, dan karena itu tidak berperikemanusiaan (dan tak ber keTuhanan pula!).

Eksistensialime merupakan himpunan aneka pemikiran yang memiliki inti sama, yaitu keyakinan, bahwa filsafat harus berpangkal pada adanya (eksistensi) manusia konkrit, dan bukan pada hakekat (esensi) manusia-pada-umumnya. Manusia-pada-umumnya tidak ada, yang ada hanya manusia ini, manusia itu. Esensi manusia ditentukan oleh eksistensinya. Tokoh aliran ini J P Sartre (1905-1980), Kierkegaard (1813-1855), Friederich Nietzche (1844-1900), Karl Jaspers (1883-1969), Martin Heidegger (1889-1976), Gabriel Marcel (1889-1973).

Fenomenologi merupakan aliran (tokoh penting: Edmund Husserl, 1859-1938) yang ingin mendekati realitas tidak melalui argumen-argumen, konsep-konsep, atau teori umum. "Zuruck zu den sachen selbst" -- kembali kepada benda-benda itu sendiri, merupakan inti dari pendekatan yang dipakai untuk mendeskripsikan realitas menurut apa adanya. Setiap obyek memiliki hakekat, dan hakekat itu berbicara kepada kita jika kita membuka diri kepada gejala-gejala yang kita terima. Kalau kita "mengambil jarak" dari obyek itu, melepaskan obyek itu dari pengaruh pandangan-pandangan lain, dan gejala-gejala itu kita cermati, maka obyek itu "berbicara" sendiri mengenai hakekatnya, dan kita memahaminya berkat intuisi dalam diri kita.

Fenomenologi banyak diterapkan dalam epistemologi, psikologi, antropologi, dan studi-studi keagamaan (misalnya kajian atas kitab suci).

Pragmatisme tidak menanyakan "apakah itu?", melainkan "apakah gunanya itu?" atau "untuk apakah itu?". Yang dipersoalkan bukan "benar atau salah", karena ide menjadi benar oleh tindakan tertentu. Tokoh aliran ini: John Dewey (1859-1914).

Neo-kantisme dan neo-thomisme merupakan aliran-aliran yang merupakan kelahiran kembali dari aliran yang lama, oleh dialog dengan aliran lain.

Disamping itu masih ada aliran filsafat analitik yang menyibukkan diri dengan analisis bahasa dan analisis atas konsep-konsep. Dalam berfilsafat, jangan katakan jika hal itu tidak dapat dikatakan. "Batas-batas bahasaku adalah batas-batas duniaku". Soal-soal falsafi seyogyanya dipecahkan melalui analisis atas bahasa, untuk mendapatkan atau tidak mendapatkan makna dibalik bahasa yang digunakan. Hanya dalam ilmu pengetahuan alam pernyataan memiliki makna, karena pernyataan itu bersifat faktual. Tokoh pencetus: Ludwig Wittgenstein (1889-1952).

Akhirnya sejak 1960 berkembang strukturalisme yang menyelidiki pola-pola dasar yang tetap yang terdapat dalam bahasa-bahasa, agama-agama, sistem-sistem dan karya-karya kesusasteraan.

6. Pancasila sebagai obyek kajian filsafat.

Sebagai filsafat dan pandangan hidup bangsa Indonesia, Pancasila telah menjadi obyek aneka kajian filsafat. Antara lain terkenallah temuan Notonagoro dalam kajian filsafat hukum, bahwa Pancasila adalah sumber dari segala sumber hukum di Indonesia. Sekalipun nyata bobot dan latar belakang yang bersifat politis, Pancasila telah dinyatakan dalam GBHN 1983 sebagai "satu-satunya azas" dalam hidup bermasyarakat dan bernegara. Tercatat ada pula sejumlah naskah tentang Pancasila dalam perspektif suatu agama karena selain unsur-unsur lokal ("milik dan ciri khas bangsa Indonesia") diakui adanya unsur universal yang biasanya diklim ada dalam setiap agama. Namun rasanya lebih tepat untuk melihat Pancasila sebagai obyek kajian filsafat politik, yang berbicara mengenai kehidupan bersama manusia menurut pertimbangan epistemologis yang bertolak dari urut-urutan pemahaman ("ordo cognoscendi"), dan bukan bertolak dari urut-urutan logis ("ordo essendi") yang menempatkan Allah sebagai prioritas utama.

Menurut Hardono Hadi, jika Pancasila menjadi obyek kajian filsafat, maka harus ditegaskan lebih dahulu apakah dalam filsafat Pancasila itu dibicarakan filsafat tentang Pancasila (yaitu hakekat Pancasila) atau filsafat yang terdapat dalam Pancasila (yaitu muatan filsafatnya). Mengenai hal ini evidensi atau isyarat yang tak dapat diragukan mengenai Pancasila terdapat naskah Pembukaan UUD 1945 dan dalam kata "Bhinneka Tunggal Ika" dalam lambang negara Republik Indonesia. Dalam naskah Pembukaan UUD 1945 itu, Pancasila menjadi "defining characteristics" = pernyataan jatidiri bangsa = cita-cita atau tantangan yang ingin diwujudkan = hakekat berdalam dari bangsa Indonesia. Dalam jatidiri ada unsur kepribadian, unsur keunikan dan unsur identitas diri. Namun dengan menjadikan Pancasila jatidiri bangsa tidak dengan sendirinya jelas apakah nilai-nilai yang termuat di dalamnya sudah terumus jelas dan terpilah-pilah.

Sesungguhnya dalam kata "Bhinneka Tunggal Ika" terdapat isyarat utama untuk mendapatkan informasi tentang arti Pancasila, dan kunci bagi kegiatan merumuskan muatan filsafat yang terdapat dalam Pancasila. Dalam konteks itu dapatlah diidentifikasikan mana yang bernilai universifal dan mana yang bersifat lokal = ciri khas bangsa Indonesia.

Tugas. "Bhinneka Tunggal Ika" secara harafiah identik dengan "E Pluribus Unum" pada lambang negara Amerika Serikat. Demikian pula dokumen Pembukaan UUD 1945 memiliki bobot sama dengan "Declaration of Independence" negara tersebut. Buatlah suatu analisis mengenai perbedaan muatan dalam kedua teks itu.

Suatu kajian atas Pancasila dalam kacamata filsafat tentang manusia menurut aliran eksistensialisme disumbangkan oleh N Driyarkara. Menurut Driyarkara, keberadaan manusia senantiasa bersifat ada-bersama manusia lain. Oleh karena itu rumusan filsafat dari Pancasila adalah sebagai berikut:

Aku manusia mengakui bahwa adaku itu merupakan ada-bersama-dalam-ikatan-cintakasih ("liebendes Miteinadersein") dengan sesamaku. Perwudjudan sikap cintakasih dengan sesama manusia itu disebut "Perikemanusiaan yang adil dan beradab".

Perikemanusiaan itu harus kujalankan dalam bersama-sama menciptakan, memiliki dan menggunakan barang-barang yang berguna sebagai syarat-syarat, alat-alat dan perlengkapan hidup. Penjelmaan dari perikemanusiaan ini disebut "keadilan sosial".

Perikemanusiaan itu harus kulakukan juga dalam memasyarakat. Memasyarakat berarti mengadakan kesatuan karya dan agar kesatuan karya itu betul-betul merupakan pelaksanaan dari perikemanusiaan, setiap anggauta harus dihormati dan diterima sebagai pribadi yang sama haknya. Itulah demokrasi = "kerakyatan yang dipimpin ...".

Perikemanusiaan itu harus juga kulakukan dalam hubunganku dengan sesamaku yang oleh perjalanan sejarah, keadaan tempat, keturunan, kebudayaan dan adat istiadat, telah menjadikan aku manusia konkrit dalam perasaan, semangat dan cara berfikir. Itulah sila kebangsaan atau "persatuan Indonesia".

Selanjutnya aku meyakini bahwa adaku itu ada-bersama, ada-terhubung, serba-tersokong, serba tergantung. Adaku tidak sempurna, tidak atas kekuatanku sendiri. Adaku bukan sumber dari adaku. Yang menjadi sumber adaku hanyalah Ada-Yang-Mutlak, Sang Maha Ada, Pribadi (Dhat) yang mahasempurna, Tuhan yang mahaesa. Itulah dasar bagi sila pertama: "Ketuhanan yang mahaesa".

ബിപോഗ്രഫി തോമസ് aquinas

1. Thomas Aquinas (1225-1274)

a).riwayat hidup

Nama sebenarnya adalah Santo Thomas Aquinas, yang artinya Thomas yang suci dari aquinas. pada tahun 1245 belajar pada albertus magnos. Semula ia belajar di napels kemudian di Paris. Menjadi guru besar dalam ilmu agama di perancis pada tahun 1250. Sejak tahun 1252 ia mengajar di Paris dan Italia. Kemudian pada tahun 1259 Thomas menjadi guru besar dan penasihat istana Paus. Ia mendapat julukan “Lembu Jantan Bisu” yang artinya ia lambat dalam tingkah lakunya dan gagah tetapi ia Maha Guru yang pandai dan tajam pikirannya. Disamping ahli pikir ia juga seorang dokter gereja bangsa Italia. Ia juga tokoh terbesar skolastisisme, salah seorang suci gereja katolik romawi dan pendiri aliran yang dinyatakan menjadi filsafat resmi gereja katolik.

b).Pemikiran

.Filsafat Thomas mempunyai hubungan yang sangat erat dengan teologia. Sekalipun demikian pada dasarnya filsafatnya dapat dipandang sebagai suatu filsafat kodrati yang murni. Sebab ia tahu betul akan tuntutan penelitian kebenaran dan secara jujur mengetahui bahwa pengetahuan insani dapat diadakan juga. Demikianlah ia membela hak-hak akal dalam bidangnya sendiri. Wahyu berwibawa juga dalam bidangnya sendiri. Disamping memberi kebenaran alamiah, wahyu juga memberi kebenaran yang kodrati, memberi misteri atau hal-hal yang bersifat rahasia, umpamanya kebenaran tentang trinitas, Inkarnasi, Sakramen Dll. Untuk itu diperlukan iman. Iman adalah suatu cara tertentu guna mencapai pengetahuan, yaitu pengetahuan yang mengatasi akal, pengetahuan yang tidak dapat ditembus akal. Iman adalah suatu penerimaan atas dasar wibawa Allah.

Thomas menyimpulkan adanya dua macam pengetahuan yang tidak saling bertentangan tetapi berdiri sendiri-sendiri secara berdampingan, yaitu;

1.pengetahuan alamiah, yang berpangkal pada akal yang terang serta memiliki hal-hal yang bersifat insani umum sebagai sasarannya.

2.pengetahuan iman yang berpangkal dari wahyu dan memiliki kebenaran Ilahi yang ada di dalam kitab suci sebagai sasarannya.

Perbedaan antara pengetahuan akal dengan pengetahuan iman itu menentukan hubungan antara filsafat dan teologia. Filsafat bekerja atas dasar terang yang bersifat alamiah semata-mata yang datang dari akal manusia. Oleh karena itu filsafat adalah ilmu pengetahuan insani yang bersifat umum yang hasil pemikirannya diterima oleh tiap orang yang berakal. Akal memang memampukan manusia untuk mengenal kebenaran di kawasan alamiah, teologia sebaliknya, memerlukan wahyu yang memberikan kebenaran-kebenaran di kawasan alamiah karena teologia memiliki kebenaran-kebenaran Ilahi sebagai sasarannya.

Menurut Thomas, Allah adalah aktus yang paling umum, Aktus Purus (aktus murni), artinya Allah adanya tiada perkembangan pada-nya, karena pada-nya tiada potensi. Di dalam Allah segala sesuatu telah sampai kepada perealisasiannya yang sempurna. Tiada sesuatu pun pada yang masih dapat berkembang.

a). Teori Hukum Kodrat

Thomas menganut teori hukum kodrat yaitu teori yang menyatakan bahwa baik dan buruk ditentukan oleh Allah secara sewenang-wenang. Sesutu dikatakan benar jika sesuai dengan kodrat manusia.

Pokok-pokok ajaran etika hukum kodrat

Ajaran etika hukum kodrat Thomas Aquinas bisa ditemukan dalam bagian I-II (Prima Secundae) bukunya Summa Theologica dan dalam bagian III bukunya Summa Contra Gentiles. Dalam I-II ST q. 90-97 pembicaraan tentang hukum kodrat termasuk dalam bab pembicaraan tentang hukum yang ia definisikan sebagai pengaturan akalbudi yang ditujukan untuk menjamin kesejahteraan umum dan dimaklumkan oleh pihak yang berwenang serta punya perhatian terhadap masyarakat. Ia membedakan 3 macam hukum:

(1) hukum abadi (lex aeterna)

(2) hukum kodrat (lex naturalis)

(3) hukum positif atau hukum manusia (lex humana).

Lex Aeterna adalah Kebijaksanaan Allah sendiri yang menciptakan manusia karena Ia menghendaki agar manusia itu ada; kehendak penciptaan itu menjadi dasar hakekat atau kodrat semua ciptaan: manusia dan ciptaannya seluruhnya berkodrat sebagaimana mereka ada, karena itulah yang dikehendaki oleh Pencipta. Jadi Kebijaksanaan Allah sebagai yang menciptakan adalah hukum yang menentukan bahwa kita ini ada dan bagaimana kita ini ada.

Lex Naturalis adalah kodrat atau hakekat segala ciptaan sejauh menjadi aturan atau norma bagi cara manusia mewujudkan kehidupannya. Setiap manusia, sebagai makhluk yang berakalbudi, mempunyai pengetahuan kodrati tentang kodratnya sendiri dan dorongan-dorongan kodrati yang ditanamkan oleh Allah Penciptanya. Kodrat manusia adalah hukum yang digoreskan dalam hati dan budi setiap insan. Kewajiban ontologis manusia untuk melakukan yang baik dan menghindarkan yang jahat datang dari keterarahan ontologis kodrat manusia. Manusia sebagaimana semua makhluk lainnya secara niscaya terarah pada Yang Baik, yakni Allah sendiri, sebagai asal mula dan tujuan akhir segala sesuatu yang ada. Hukum kodrat ada dan berfungsi dalam keterarahan dinamis manusia pada tujuan semestinya.

Karena segala sesuatu yang ada diatur dan diukur oleh kebijaksanaan ilahi dalam hukum abadi, dalam arti tertentu semua ciptaan ambil bagian dalam hukum abadi. Berkat cap hukum abadi segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah punya kecenderungan kodrati ke arah tujuan mereka yang semestinya. Kekhususan manusia sebagai makhluk yang berakal budi dan berkehendak bebas adalah bahwa ia ambil bagian secara khas dalam hukum abadi. Ia bisa mengetahui Yang Baik sebagai tujuan segenap ciptaan dan bisa menghayati kebebasan (eksistensial)nya untuk mengarahkan diri dan yang lain ke arah tujuan yang terakhir. Manusia dapat memilih mana di antara nilai-nilai yang ada di dunia ini yang membawa ke tujuannya yang terakhir. Manusia dapat menentukan sendiri bagaimana ia semestinya bertindak. Karena kebebasan ini manusia dapat pula bertindak melawan kodratnya sendiri. Hukum kodrat bagi manusia merupakan norma yang wajib ditaati, karena di situ lah kehendak sang Pencipta bisa dibaca. Karena kodrat setiap makhluk merupakan perwujudan kebijaksanaan sang Pencipta, maka kodrat mencerminkan kehendak Allah Sang Pencipta. Hidup sesuai dengan kodrat berarti hidup sesuai dengan kehendak Allah.

Lex Humana adalah sebutan bagi segala macam hukum, peraturan, adat-istiadat dsb. yang ditentukan oleh manusia sendiri untuk menata kehidupan bersama. Hukum positif atau hukum manusia ini hanyalah syah dan punya daya mengikat bagi warga masyarakat apabila sesuai dengan hukum kodrat. Hubungan antara hukum positif dengan hukum kodrat merupakan masalah penting dalam filsafat hukum.

Hukum kodrat mencerminkan keluhuran pribadi manusia, karena dalam faham ini manusia dipandang sebagai bisa mengetahui tata moral; ia bisa tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Pengertian teologis 'dosa asal' tidak dianggap sebagai yang merusak sepenuhnya seluruh kodrat ciptaan. Dalam terang akalbudi kodratinya, manusia dapat menangkap tatasusunan ontologis dari kodratnya yang menegaskan suatu kewajiban moral yang bersifat batin dan pribadi. Teori hukum kodrat juga mengungkapkan suatu kepercayaan yang mendalam terhadap kodrat manusia. Berbeda dengan Immanuel Kant yang menganggap kecenderungan-kecenderungan kodrati manusia pada dasarnya bertentangan dengan akal, Thomas Aquinas menganggap kecenderungan-kecenderungan kodrati manusia pada dasarnya baik. Ia tidak mengingkari bahwa kecenderungan-kecenderungan itu perlu dikendalikan dan diarahkan oleh akalbudi. Namun kecenderungan-kecenderungan kodrati itu merupakan bagian hakiki dari hidup moral dan bukan sekedar hal yang perlu ditekan. Kecende-rungan kodrati memberi dorongan pertama dan bahan pertimbangan akalbudi. Perincian umum pertama hukum kodrat diungkapkan melalui dorongan-dorongan dasar kodrat manusia.

Thomas Aquinas, mengikuti Aristoteles, membedakan tiga tingkat dorongan-dorongan dasar kodrati manusia:

1. sebagai makhluk yang ada manusia cenderung untuk mempertahankan kebe-radaannya.

2. sebagai makhluk yang termasuk jenis binatang, manusia cenderung untuk mencari makan dan membuat keturunan.

3. sebagai makhluk berakalbudi, manusia cenderung untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbudaya, dan berkeutamaan.

Isi pokok hukum kodrat adalah apa yang dinyatakan pada akalbudi sebagai prinsip yang membimbing ke arah Yang Baik. Prinsip akalbudi praktis yang pertama adalah sesuatu yang jelas dengan sendirinya bagi mereka yang bisa mengerti apa maknanya, yakni: "Yang baik itu wajib dicari dan yang jahat wajib dihindari" (bonum est prosequendum et malum vitandum). Dalam situasi konkret manusia mesti menggunakan akal sehatnya (recta ratio) untuk menilai kapan dan bagaimana kita mau mengikuti kecenderungan-kecenderungan kodrati kita yang baik dan menempatkan kecenderungan yang lebih rendah di bawah kecenderungan yang dalam hirarki nilai lebih tinggi. Kesehatan kehendak kita tergantung dari benar/salahnya penilaian akal sehat kita.

Prinsip akalbudi praktis yang kedua, yakni perintah-perintah yang diturunkan dari prinsip yang pertama, tidaklah jelas dari dirinya sendiri, masih bersifat umum, dan keberlakuannya hanya pada umumnya saja (ut in pluribus); prinsip tersebut membuka kemungkinan adanya kekecualian dalam situasi khusus. Seperti masih akan kita lihat, pengetrapan hukum kodrat dalam situasi konkret berpegang pada suara hati (conscientia). Suara hati menyatakan diri sebagai perintah akalbudi untuk mengikuti kewajiban moral dalam situasi dan kondisi tertentu. Setiap orang wajib mengikuti suara hatinya, kendati kadang-kadang suara hati bisa keliru. Karena ada kemungkinan keliru maka manusia juga wajib mendidik suara hatinya. Pendidikan suara hati akan membimbing ke hidup berkeutamaan, yakni hidup yang oleh Thomas Aquinas dikatakan sebagai kebiasaan untuk memilih dan menjalani yang baik.

b.Kekuatan Teori Etika Hukum Kodrat

Dibandingkan dengan teori etika yang lain, teori etika hukum kodrat mempunyai beberapa kekuatan atau arti positif :

(1) Pengertian kodrat manusia cukup umum untuk bisa memuat macam-macam nilai yang memperkembangkan manusia. Dengan ini pluriformitas nilai bisa dijamin.

(2) Pengertian kodrat manusia sebagai hukum yang mendasari segala hukum yang ditetapkan oleh manusia bisa berfungsi kritis terhadap hukum-hukum yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan.

(3) Penekanan pada peranan akalbudi sebagai prinsip pengaturan tingkah laku bisa menjamin objektivitas dan keberlakuan umum prinsip moral yang ditegaskan.

(4) Bisa mengambil unsur positif etika teonom tanpa menjadikannya etika keagamaan. Seperti sudah kita lihat etika hukum kodrat memahami kehendak Allah bukan sebagai sesuatu yang mengambang di atas manusia dan hanya bisa diketahui oleh orang yang beriman, melainkan sebagai sesuatu yang mengembangkan dan memelihara semua dimensi kemanusiaan kita dalam dunia ini sejauh itu bisa ditangkap oleh akalbudi manusia.

c. Kelemahan Teori Hukum Kodrat

Teori etika hukum kodrat mempunyai kekurangan pokok yaitu :

(1) Faham kodrat manusia yang begitu umum, yang dalam arti tertentu dapat menjadi kekuatan teori hukum kodrat, dapat juga menjadi titik lemahnya. Karena begitu umum, maka sangat sulit untuk dipastikan apa artinya atau apa isi yang terkandung dalam pengertian tersebut. Macam-macam filsafat manusia bisa memberikan pandangan yang berbeda mengenai apa dan siapa manusia itu, sehingga paham tentang kodrat manusia bisa juga berbeda tergantung dari filsafat manusia mana yang dianut seseorang. Dengan demikian menjadi sulit sekali untuk menentukan sikap-sikap apa yang sesuai dengan kodrat manusia karena tidak dapat dipastikan dan sulit dicapai persetujuan mengenai apa yang dimaksudkan dengan kodrat manusia. Bahkan ada bahaya bahwa masing-masing filsof merumuskan dulu apa yang termasuk kodrat manusia menurut prasangka atau kepentingannya sendiri, untuk kemudian dapat mempermaklumkan bahwa tindakan-tindakan tertentu "sesuai dengan kodrat manusia" atau merupakan "kewajiban moral", padahal hal-hal itu hanyalah buah prasangka pribadi/ kelompok/ kultural orang itu.

(2) Bahkan seandainya kita bisa mengetahui apa yang menjadi isi kodrat manusia kita masih belum dapat menarik kesimpulan tentang sikap mana yang sesuai dengan itu. Seperti sudah ditegaskan oleh G. E. Moore (dalam bukunya Principia Ethica) dari suatu fakta, secara logis tidak bisa disimpulkan suatu keharusan. Penalaran yang tidak mematuhi prinsip ini jatuh ke dalam apa yang ia sebutkan sebagai "the naturalistic fallacy." Sebagai contoh misalnya dari fakta bahwa manusia dari kodratnya akan mati kalau minum racun tidak bisa disimpulkan suatu keharusan yang melarang siapapun untuk minum racun.

(3) Walaupun teori hukum kodrat, dengan dimasukkannya dimensi yang mengatasi kehidupan di dunia ini, dapat dikatakan sudah jauh mengatasi eudaimonisme Aristoteles, namun teori ini pun belum seluruhnya bebas dari pendekatan egoistik dalam hidup bermoral. Misalnya kalau orang berbuat baik dan bertindak adil hanya supaya dirinya nanti masuk surga, kiranya belum mencukupi sebagai sikap moral, karena motivasi macam itu belum menjelaskan kekhasan tuntutan kebaikan dan keadilan.

Thomas berpendapat bahwa Allah menciptakan manusia karena Allah menghendaki agar manusia ada. Oleh karena itu, kodrat manusia justru karena diciptakan oleh Allah, adalah sesuai dengan kehendak Allah. Kita juga dapat mengatakan bahwa kodrat manusia mencerminkan kehendak Allah sang pencipta. Maka manusia tinggal bertindak sesuai dengan kodratnya, maksudnya sesuai dengan apa yang baik baginya, yang menjurus kepada tujuan yang terakhir. Dengan demikian ia sekaligus memenuhi kehendak Allah. Inti ajaran teori ini mengatakan;

“bertindaklah sesuai kodratmu sebagai manusia, yaitu sempurnakanlah kemampuan-kemampuanmu dan dengan ini engkau sekaligus akan mencapai kebahagiaan yang sebenarnya, serta memenuhi kehendak Allah.”

Thomas juga mengajarkan apa yang disebut Theologia Naturalis yang mengajarkan bahwa manusia dengan pertolongan akalnya dapat mengenal Allah sekalipun pengetahuan tentang Allah yang diperolehnya dengan akal itu tidak jelas dan tidak menyelamatkan. Dengan akalnya, manusia dapat tahu bahwa Allah ada dan juga tahu beberapa sifat Allah. Dengan demikian pembuktian tentang adanya Allah hanya dapat dilakukan secara a posteori.

Thomas memberikan lima pembuktian adanya Allah, yaitu:

a) Adanya gerak di dunia mengharuskan kita menerima bahwa ada penggerak pertama yaitu Allah. Menurutnya apa yang bergerak tentu digerakkan oleh sesuatu yang lain yaitu Allah.

b) Di dalam dunia yang diamati ini terdapat sebab-sebab yang membawa hasil atau yang berdayaguna. Tidak pernah ada sesuatu yang diamati yang menjadi sebab yang menghasilkan dirinya sendiri karena seandainya ada hal yang menghasilkan dirinya sendiri itu tentu harus mendahului dirinya sendiri. Oleh karena itu harus ada yang berdayaguna yang pertama, inilah Allah.

c) Di dalam alam semesta terdapat hal-hal yang mungkin “ada” dan “tidak ada”. Oleh karena semuanya itu tidak berada sendiri, tetapi diadakan dan oleh karena semuanya itu juga dapat rusak, maka ada kemungkinan semuanya itu “ada” atau semuanya itu “tidak ada”. Oleh karena itu harus ada sesuatu yang perlu mutlak, yang tak disebabkan sesuatu yang lain inilah Allah.

d) Diantara segala yang ada terdapat hal-hal yang lebih atau kurang baik, lebih atau kurang benar dan lain sebagainya. Apa yang disebut kurang baik, atau lebih baik, tentu disesuaikan dengan sesuatu yang menyerupainya, yang dipakai sebagai ukuran. Jadi harus ada sesuatu yang menjadi sebab dari segala yang baik, segala yang benar, segala yang mulia yang menyebabkan semuanya adalah Allah.

e) Yang tidak berakal tidak mungkin bergerak menuju akhir, jikalau tidak diarahkan oleh sesuatu tokoh yang berakal, berpengetahuan, inilah Allah.

Ia berusaha untuk membuktikan, bahwa iman Kristen secara penuh dapat dibenarkan dengan pemikiran logis. Ia juga berpendapat bahwa, semua kebenaran asalnya dari Tuhan. Kebenaran diungkapkan dengan jalan yang berbeda-beda, sedangkan iman berjalan diluar jangkauan pemikiran. Ia menghimbau agar orang-orang untuk mengetahui hukum alamiah (pengetahuan) yang terungkap dalam kepercayaan. Tidak ada kontradiksi antara pemikiran dan iman. Semua kebenaran mulai timbul secara ketuhanan, walaupun iman diungkapkan lewat beberapa kebenaran yang berada di luar kekuatan pikir.

Thomas telah menafsirkan bahwa Tuhan sebagai “Tukang Boyong” yang tidak berubah dan yang tidak berhubungan atau tidak mempunyai pengetahuan tentang kejahatan-kejahatan di dunia. Tuhan tidak pernah menciptakan dunia tetapi zat dan pemikirannya tetap abadi.

Selanjutnya ia katakan bahwa iman lebih tinggi dan berada di luar pemikiran yang berkenaan dengan sifat Tuhan dan alam semesta. Timbulnya pokok persoalan yang aktual dan praktis dari gagasannya adalah pemikiran dan kepercayaannya telah menemukan kebenaran mutlak yang harus diterima oleh orang lain. Pandangan inilah yang menjadikan perlawanan kaum protestan karena sikapnya yang otoriter.

Thomas menyadari bahwa ia tidak dapat menghilangkan unsur-unsur Aristoteles. Bahkan ia menggunakan ajaran Aristoteles tetapi system pemikirannya berbeda. Masuknya unsur Aristoteles ini di dorong oleh kebijakan pimpinan gereja Paus urbanus v (1366) yang memberikan angin segar untuk kemajuan filsafat. Kemudian Thomas membuat langkah-langkah yaitu :

1. Thomas menyuruh teman sealiran willem van moerbete untuk membuat terjemahan baru yang langsung dari Yunani.

2. Peng-Kristenan ajaran Aristoteles dari dalam. Bagian-bagian yang bertentangan dengan apa yang dianggap Kristen bertentangan sebagai firman Aristoteles tetapi diupayakan selaras dengan Kristen.

3. Ajaran Aristoteles yang telah dikristenisasikan dipakai untuk membuat sintesa yang lebih bercorak ilmiah (sintesa deduktif antara iman dan akal). Sistem baru ini untuk menyusun summa theologia. Karyanya telah menandai taraf yang tinggi dari aliran skolastisisme pada abad pertengahan.

II. saint Augustinus (354-430)

Lahir di thagaste (sekarang: Souk-Ahras),numedia (sekarang:Aljazair),Afrika Utara,13 November 354 M. ayahnya bernama Patricius,seorang tuan tanah kecil dan anggota dewan kota yang non-Kristen, tetapi ibunya adalah Kristen yang saleh bernama Monica. Ada yang mengatakan bahwa nama lengkapnya adalah Aurelius Augustinus,namun sama sekali tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa nama Aurelius itu diterimanya pada saat kelahirannya atau pada waktu ia dibaptiskan. Augustinus sendiri pun tidak pernah menggunakan nama Aurelius. Oleh ibunya yang saleh ,ia dibesarkan dan dididik secara Kristen,kendati pun karena adat-isstiadat yang berlaku masa itu,Augustinus tidak dibaptiskan ketika masa bayi.

Augustinus memperoleh pendidikan dasar di Tagaste. Dari seorang guru di Tagaste,ia secara khusus mempelajari bahasa Latin dan ilmu hitung. Namun karena guru itu kurang cakap mengajar,maka pelajaran yang diberikannya tidak menarik. Ia lebih suka bermain daripada belajar. Beberapa waktu kemudian,Augustinus mulai mempelajari bahasa Yunani,tetapi dalam waktu singkat ia jemu dan kehilangan minat mempelajari bahasa itu,kendati pun ia sangat tertarik pada syair Homerik yang dianggapnya sebagai suatu cerita yang indah.

Ketika Augustinus berusia sebelas atau duabelas tahun,ia dikirim oleh ayahnya ke sebuah kota kecil yang bernama Madaura. Di Madaura,Ia menyelesaikan pendidikan dasarnya dan berhasil meraih pengetahuan yang cukup mengagumkan dalam tata bahasa ddan sastra Latin. Ayahnya berharap Ia mendalami ilmu hukum,tetapi Ia lebih tertarik mendalami ilmu pidato. Itylah sebabnya pada tahun 370,Ia dikirim ke Carthago. Pada tahun yang sama ayahnya meninggal sesudah dibaptis menjadi Kristen.

Ketika ia masih muda, ia hidup menuruti hawa nafsunya. Setelah diombang-ambingkan dari manikheisme ke dalam skeptisisme dan neoplatonisme, akhirnya ia bertobat dan dibaptiskan pada tahun 387. Kemudian ia ditahbiskan menjadi imam pada tahun 392. Mempelajari filsafat sejak muda dan diakui keberhasilannya dalam membentuk filsafat Kristen yang berpengaruh besar dalam filsafat abad pertengahan, sehingga dijuluki sebagai guru skolastik yang sejati. Karena kesalehan dan kecakapannya ia diangkat menjadi uskup di hippo (396).

Dia berpendapat daya pemikiran manusia ada batasnya, tetapi pikiran manusia dapat mencapai kebenaran dan kepastian yang tidak ada batasnya, yang bersifat kekal abadi. Artinya, akal pikiran manusia dapat berhubungan dengan sesuatu kenyataan yang lebih tinggi.

Mengenai tulisan-tulisannya harus dibedakan antara karya Agustinus sebelum bertobat dan sesudahnya. Segala karyanya yang ditulis setelah ia bertobat dapat dibedakan antara karya-karyanya sebelum ia ditahbiskan sebagai imam dan sesudahnya. Segala karyanya yang ditulis sebelum pentahbisannya sebagai imam menampakkan usahanya dalam mencari keselarasan antara iman dan filsafat. Di sini unsur filsafat lebih sering berperan sekalipun filsafat itu tidak sampai kepada pertentangan dengan iman.

Segala karangannya yang ditulis setelah pentahbisannya sebagai iman diarahkan kepada penguraian tentang ajaran iman , sedang unsur filsafat terdesak ke belakang, sekalipun unsur ini masih mempunyai peranan yang penting. Yang terpenting di antaranya adalah :confessions (pengakuan), de trinitas (tentang trinitas), dan de civitate dei (tentang negara Allah).

Dari karya-karya itu dapat diketahui bahwa Agustinus adalah seorang tokoh besar dibidang teologi dan filsafat, sekalipun sukar untuk mendapatkan suatu pandangan yang tepat tentang pemikiran yang bersifat filsafati semata-mata. Yang jelas ialah pemikiran merangkumkan pemikiran para ahli pikir Kristen sebelum dan sesudah dia. Oleh karena itu ia mewujudkan suatu penutupan satu zaman dan suatu permulaan zaman baru.

Agustinus menentang aliran skeptisisme. Menurut dia, sikap skeptis disebabkan karena adanya pertentangan batiniah. Orang dapat meragukan segala sesuatu, akan tetapi suatu hal yang tidak dapat diragukan olehnya, yaitu bahwa ia ragu-ragu. Barangsiapa ragu-ragu sebenarnya ia berpikir dan barangsiapa berpikir, tidak boleh ia berada. Aku ragu-ragu maka, aku berpikir, dan aku berpikir maka aku berada. Dengan ini ia bermaksud mempertahankan bahwa, kebenaran ada, maka bergunalah mengusahakan kebenaran itu. Aliran skeptisisme yang meragukan adanya kebenaran adalah salah. Oleh karena itu berpikir hanya berarti, jikalau dengan berpikir itu orang dapat mengalahkan skeptisisme.

Pikiran dapat mencapai kebenaran dan kepastian. Sekalipun berpikir pada dirinya ada batasnya, namun dengan berpikir orang dapat mencapai kebenaran yang tiada batasnya, yang kekal abadi. Dengan berpikir orang dapat sampai kepada pertimbangan-pertimbangan yang bersifat abadi, yang mutlak perlu dan tidak dapat diubah.

Maksud Agustinus dengan dalil-dalilnya “aku ragu”, maka “aku berada”itu bukan hanya untuk mendapatkan kepastian bahwa dirinya berada, tetapi juga untuk mendapatkan kepastian bahwa dirinya berada, tetapi juga untuk menjelaskan, bahwa akal kita dapat berhubungan dengan suatu kenyataan yang lebih tinggi, dan untuk mencapai kebenaran serta kepastian yang sempurna, tanpa bantuan dunia ini. Dasar terakhir dari kepastian kita akan segala kebenaran berasal dari suatu sumber yang metafisis, yaitu Allah. Akan tetapi ini bukan pembuktian akan adanya Allah dengan buktu-bukti kausal, bukti-bukti sebab akibat, melainkan suatu usaha untuk menjadikan sifat-sifat kebenaran dapat dimengerti. Agustinus tidak memberikan bukti-bukti tentang adanya Allah. Ia hanya menunjuk kepada adanya kesaksian-kesaksian tentang adanya Allah.

Selanjutnya mengenai hakikat Allah dikatakan, bahwa Allah begitu mengatasi segala gagasan dan pengertian, sehingga pengetahuan kita tentang dia lebih menampakkan hal ketidaktahuan, artinya kita lebih dapat mengatakan “Allah itu bukan apa-apa” daripada “Allah itu apa”.akan tetapi ini bukan agnostisisme, sebab maksud Agustinus hanya mengatakan, bahwa Allah tidak dimasukkan ke dalam kategori yang dimiliki manusia. Allah adalah roh yang esa, yang tidak bertubuh, tidak berubah, akan tetapi yang berada di mana-mana, serta meliputi segala sesuatu, sehingga tiada sesuatu pun yang di atas dan manusia tidak dapat mengenal Allah secara sempurna.

Segala sesuatu diciptakan oleh Allah dari “yang tidak ada”menjadi “berada”. Penciptaan adalah suatu creation ex nihil, penciptaan keluar dari “yang tidak ada” (nihil).

Menurut Agustinus, sebelum Allah menciptakan tidak ada apa-apa (nihil). Nihil adalah pengingkaran mutlak. Jagad raya adalah hasil kehendak Allah semata-mata. Oleh karena itu dunia sifatnya berubah, sebab ia berada di luar Allah, ia bukan keluar dari zat Allah. Dari saat ke saat Allah mendukung dunia dengan segala isinya.

Dasar penetapan dunia adalah akal dan hikmat Allah. Di dalam akal Allah terdapat gagasan-gagasan Ilahi atau ide-ide Ilahi. Ide-ide yang dimaksud di sini adalah nous atau roh.

Manusia mendapat bagian juga dari ide Allah. Ia sejenis dengan dunia roh dan dunia benda yang telah diciptakan oleh Allah, sebab ia memiliki jiwa dan tubuh. Di dalam tertib segala penciptaan jiwa menempati tempat yang tertinggi. Di tengah-tengah hidup jiwani yang senantiasa berubah itu jiwa tetap berdiri sendiri. Di satu pihak, jiwa dipandang sebagai asas hidup dan gerak tubuh serta memiliki kesadaran dan kesusilaan. Di lain pihak jiwa dipandang sebagai kepribadian perorangan yang tidak termasuk dunia benda yang secara hakiki berbeda dengan tubuh. Jiwa memakai tubuh bagi tujuan-tujuannya. Jiwa diciptakan bersamaan dengan tubuh, akan tetapi jiwa tidak binasa bersama tubuh, sebab jiwa tidak dapat mati. Jiwa memiliki kemungkinan untuk memandang kepada kebenaran-kebenaran yang kelar. Tiada pra-eksistensi jiwa dan tiada juga perpindahan jiwa ke tubuh yang lain.

Sama halnya dengan dunia, manusia juga berpartisipasi dengan ide-ide Ilahi. Akan tetapi manusia tidak hanya berpartisipasi secara pasif melainkan juga dilaksanakan secara aktif, yaitu di dalam suatu pengenalan yang penuh kasih terhadap Allah.

Demikianlah Agustinus menghubungkan kasih dan pemikiran secara harmonis. Segala pengenalan adalah partisipasi dalam kebenaran Allah, sedang mengasihi adalah partisipasi dalam kebaikan Allah.segala “yang ada” berpartisipasi dalam “ada” Allah. Demikianlah kecuali bersifat transenden, Allah juga imanen di dalam seluruh jagad raya.

Pengenalan dimulai dengan pengamatan inderawi, jiwalah yang mengamati. Akal memberi pertimbangan terhadap perangsang-perangsang yang datang dari indera, dan mengaturnya sesuai dengan perbuatan manusia. Di dalam berbuat dengan berpikir itu manusia sadar akan kebenaran–kebenaran yang kekal, yang perlu mutlak dan tidak berubah, yang pada akhirnya memimpin tiap perubahan. Jadi inti

pangkal pemikiran Augustinus bersifat teologis dan filsafat.

Dengan demikian bagi Augustinus kebahagiaan sejati bagi para penguasa Negara surgawi,bukanlah karena pemberian yang mereka peroleh,seperti:memerintah dalam waktu yang lama,mati dalam damai sejahtera,memiliki putra-putra yang cakap untuk menggantikan mereka atau karena mereka berhasil menaklukkan musuh-musuh mereka. Para penguasa Negara surgawi benar-benar berbahagia apabila mereka dapat berbuat baik, dan dalam pemerintahan mereka,mereka senantiasa tahu memuliakan Allah yang benar. Sesungguhnya kebahagiaan sejati para penguasa surgawi terletak pada pelayanan dan pengabdian mereka yang benar-benar terarah bagi hormat dan kemuliaan Allah.

Akhirnya ajarannya berhasil menguasai sepuluh abad dan mempengaruhi pemikiran Eropa. Ajarannya dapat mendominasi hampir 10 abad, karena ajarannya mampu meresap sampai masa skolastik. Karyanya telah menandai taraf yang tinggi dari aliran skolastisisme pada abad pertengahan.

Pada tahun 430 M,orang-orang vandal,salah satu bangsa Barbar yang ikut serta mengobra-abrik kekaisaran Romawi,mengepung kota pelabuhan Hippo Regius tempat Augustinus bertugas.Ia ikut serta mengatur pertahanan kota Hippo,namun pada 28 Agustus 430 M,Augustinus wafat. Sebulan kemudian, bangsa Vandal berhasil menaklukkan kota Hippo, lalu membumihanguskannya. Sesudah itu tersebarlah suatu berita yang dianggap sebagai suatu keajaiban, yaitu semua orang dapat menyaksikan bahwa kota Hippo benar-benar musnah akibat kebiadaban bangsa Vandal namun Gereja Augustinus lengkap dengan perpustakaannya ternyata tetap utuh sseperti semula.